Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian,hai ahlul bait,dan menyucikan kalian suci sesucinya. (Q.S. Al-azhab: 33)

Katakanlah, 'Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kecintaan kepada keluargaku'.dan siapa mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan atas kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah lagi Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri"(Q.S As-Syura:23)

"Sesungguhnya Aku telah tinggalkan dua pusaka berharga untuk kalian ; Kitab Allah dan Itrah, Ahlulbaytku. Selama berpegang pada keduanya, kalian tidak akan terpisah hingga menjumpaiku di Telaga Kausar kelak pada hari kiamat."(H.R. Sahih Muslim,jil7 hal.22;Mustadrak Hakim, Jilid 3,hal.109,147,533 dan kitab-kitab induk yang lain)

Thursday, November 29, 2012

72 Matyrrs Of Karbala


KESYAHIDAN UTUSAN IMAM HUSAIN



Rombongan Imam Husain bertolak dari Mekah menuju Irak. Ketika tiba di daerah bernama Hajis, surat Muslim bin Aqil sampai ke tangan Imam Husain. Di dalamnya tertulis, “Masyarakat (Kufah) memberi sambutan baik dan mereka semua menunggu kedatangan Anda……”

Imam Husain menulis surat untuk para pengikut beliau di Kufah. Lalu surat itu diserahkan kepada Qais bin Musahhar S
haidawi, untuk dibawa ke Kufah dan diserahkan kepada pemuka pengikut Ahlul Bait. Dalam surat itu tertulis, “Bismillah al-Rahman al-Rahim, dari Husain untuk saudara seiman, assalamu ‘alaikum. Kami bersyukur kepada Allah Yang Mahaesa, amma ba’du : Surat Muslim bin Aqil telah saya terima, yang isinya menjelaskan kebaikan pandangan kalian, dan kesiapan kalian membantu kami dan menuntut hak kami. Saya memohon kepada Allah agar usaha kita dapat berjalan lancar dan memberi kalian pahala. Pada hari Selasa tanggal delapan Dzulhijjah, saya keluar dari Mekah. Tatkala pembawa surat ini (Qais) sampai di sisi kalian, bersatulah dan bersiap-siaplah. Insaya Allah pada hari-hari ini saya akan datang menemui kalian. Salam, rahmat dan berkah Allah senantiasa menyertai kalian.”

Qais bertolak ke Kufah. Sesampainya di Qadisiyah, ia ditangkap orang-orang yang dipimpin Hashin bin Numair. Lalu ia dibawa ke hadapan Ibnu Ziyad. Di tengah perjalanan, ia mengeluarkan surat Imam Husain yang dibawanya dan dirobek-robeknya. Tatkala sampai di hadapan Ibnu Ziyad, terjadilah dialog.

Ibnu Ziyad, “Siapa kamu?” Qais, “Seorang pengikut Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.”

“Mengapa engkau merobek-robek surat itu?”

“Supaya engkau tidak mengetahui apa yang tertulis di surat itu.”

“Dari siapakah surat itu, dan untuk siapa?”

“Dari Imam Husain untuk perkumpulan masyarakat Kufah.”

“Apa nama perkumpulan itu?”

“Aku tak tahu.”

Ibnu Ziyad gusar dan berkata, “Naiklah ke ketinggian itu, dan caci makilah si pembohong anak pembohong Husain bin Ali.”

Qais pun melaksanakan perintah itu. Setelah mengungkapkan pujian kepada Allah, ia berkata, “Wahai manusia! Husain bin Ali ini adalah anak Fatimah sebaik-baik makhluk Allah. Saya adalah utusannya untuk kalian. Di Hajis, saya berpisah dengannya. Sambutlah ajakan Imam!” Kemudian ia mengutuk Ibnu Ziyad serta ayahnya, dan memohon ampun untuk imam Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ibnu Ziyad memerintahkan membawa Qais ke atap istana dan melemparkannya ke tanah. Akhirnya, ia pun mereguk kesyahidan.

DAN DIA ADALAH HUSEIN (MAQTAL BAG 5-SELESAI)



IMAM HUSEIN BIN ALI BIN ABI THALIB AS

Curahan Darah Di Karbala
Menggenangi Segenggam Hati
Terserap Habis Di dalam Dada
Lalu Sulutkan Api
Selamanya Akan Membara
Hingga Kita Mati

Imam mulai memacu kudanya sambil berkata: “Bagiku mati lebih baik dari pada menanggung malu, dan menanggung malu lebih baik dari pada masuk neraka.” Imam menyerang sayap kanan musuh, karena begitu hebatnya serangan yang dilancarkan oleh Imam, hingga sayap kanan musuh menjadi sayap kiri dan sayap kiri menjadi sayap kanan.

Imam berperang laksana ayahnya Amirul Mu’minin, hingga pasukan musuh tidak ubahnya seperti sekumpulan domba yang melarikan diri dari serangan seekor singa. Imam membunuh lebih dari empat ratus pasukan musuh. Pihak musuh berlarian bercerai berai seperti sekelompok belalang yang tertiup oleh angin topan. Karena serangan Imam begitu hebat, pasukan musuh berlarian menjauhi sungai.

Ketika Imam mulai mendekati sungai Umar Bin Sa’ad ketakutan dan berteriak: “Celaka sekiranya Husain dapat minum, Karena ia tidak akan membiarkan seorangpun dari kalian hidup.”

Lalu hewan laknat Hashin Bin Numair, melontarkan anak panahnya dan anak panah itu mengenai dagu Imam. Imam mencabut anak panah dari dagunya, dan darah mengalir deras dari dagu yang cucu Rasulullah. Setelah memanah Imam Nashim Bin Numair berteriak untuk mengelabui Al-Husain, :”Wahai Husain, kemah-kemah keluargamu sedang dijarah.” Mendengar itu Imam memacu kudanya meninggalkan tepian sungai dan kembali kekemah keluarganya untuk melindungi mereka.

Kemudian Imam mengumpulkan seluruh keluarga dan anak-anaknya, melihat darah yang mengalir deras dari dagu Imam, seluruh keluarganya menangis. Melihat keadaan Imam, dalam keadaan sakit keras Ali Zainal Abidin As Sajjad, tertatih menghampiri Imam dan berkata: “Duhai ayahku, izinkanlah aku mengucapkan salam perpisahan kepadamu.” Imam memeluk kemudian mecium Ali Zainal Abidin, dan menyerahkan rahasia kepemimpinan kepadanya.

Lalu Imam berpesan: “Kalian harus tetap tabah dan tegar dalam menghadapi kesulitan setelah ini, ketahuilah bahwa Allah akan melindungi dan menolong kalian dari musuh kalian. Janganlah kalian berputus asa, musuh kalian akan dihukum dengan siksaan yang sangat berat. Dan Allah akan memberikan kalian berbagai kemuliaan dan kenikmatan. Karena itu, janganlah kalian mengeluh, dan jangan mengatakan sesuatu yang membuat kalian terlihat lemah. Dan bersiaplah untuk menghadapi berbagai kesulitan.”

Kemudian Imam kembali melesat ketengah medan petempuran, pada serangan keduanya Imam dengan cepat membunuh seratus sembilan puluh lima pasukan musuh. Melihat pasukannya lari berhamburan, Umar Bin Sa’ad berkata: “Celakalah kalian! Tidakkah kalian tahu dengan dengan siapa kalian berhadapan? Dia adalah putera Ali Bin Abi Thalib yang telah membunuh para jagoan Arab.”

Maka dengan licik segera Umar Bin Sa’ad memerintahkan pasukan pemanah untuk memanah Al-Husain, dengan cepat empat ribu anak panah melesat memenuhi langit, dan mengarah kekemah dan Imam. Hingga terciptalah jarak antara Imam dan keluarganya.

Imam berteriak: “Celakalah kalian, wahai pengikut keluarga Abu Sufyan! Jika kalian tidak beragama dan tidak pula takut dengan hari kebangkitan. Maka jadilah orang-orang bebas di dunia ini!”

Lalu Syimir berkata: “Apa yang kau katakan, wahai putera Fathimah?” Dan Imam menjawab: “Yang berperang dengan kalian adalah aku. Para wanita itu tidak berdosa. Karena itu, cegahlah kejahatan kalian dari keluargaku. Selama aku masih hidup tidak ada seorangpun yang dapat menyentuh keluargaku.”

Syimir menyetujui permintaan Al-Husain, dan memerintahkan pasukannya untuk langsung menyerang kepada Imam. Peperangan hebat kembali bergejolak, dari setiap gerakan Imam ketika bertempur mereka teringat Singa Allah Amirul Mu’minin. Lalu pasukan Syimir mundur menjauhi Imam.

Lalu karena kelelahan Imam berhenti sejenak untuk beristirahat, tiba-tiba seseorang melepaskan ketapel batu, dan batu cadas itu tepat mengenai kening Imam. Darah mengalir diwajah Imam, kemudian Imam mengangkat bajunya untuk membersihkan darah dari wajahnya.

Belum selesai Imam membersihkan wajahnya, anak panah beracun melesat dan menghujam dada Imam. Racun itu membuat Imam lemah, Imam terhuyung dan hanya mampu berdiri ditempatnya.

Dan majulah hewan biadab yang bernama Malik Bin Nashr Kindi menghampiri Imam. Ia mencaci maki dan menghina Imam, lalu ia mencabut pedangnya dan memukul kepala Imam dengan begitu kuat, hingga menembus topi perang Imam. Maka darah memancar dari kepala yang selalu dibelai oleh Rasulullah.

Kemudian Imam melepas topi perangnya dan pergi menuju kemah, lalu meminta kain untuk menutup luka yang menganga dikepalanya. Kemudian Imam memakai kembali topi perangnya diatas kain dan melilitkan surban diatasnya.
Ketika kepala dan wajah Imam bersimbah darah, Imam Husain berkata; “Dalam keadaan seperti inilah aku akan menemui kakekku, dan aku akan katakan siapa yang telah membunuhku.”

Kemudian Imam kembali memanggil anak-anak dan keluarganya. ““Duhai putriku Sukainah, Ya Fathimah, Ya Ummu Kultsum, Ya Zainab. Salam sejahtera untuk kalian” Mendengar itu Sayyidah Zainab sambil menangis berkata: “Duhai kakakku sayang, Apakah engkau yakin akan terbunuh?”

Lalu Imam menjawab: “Duhai adikku, bagaimana aku tidak yakin sementara tidak ada orang yang mau menolongku.” Ketika Imam ingin kembali kemedan pertempuran, Sayyidah Zainab menangis histeris dan berkata: “Duhai kakakku, tunggulah sebentar. Izinkanlah aku untuk melihat wajahmu untuk yang terakhir.”

Imam menghampiri adiknya, setelah memandangi wajah Imam lalu Zainab mencium tangan dan kaki Imam, begitu pula yang dilakukan oleh seluruh keluarga Al-Husain, kemudian semuanya menangis histeris. Kemudian Imam kembali menuju medan pertempuran.

Ketika Imam menuju musuh, keponakan Imam bernama Abdullah Bin Al-Hasan Al-Mujtaba mengikuti Imam dari belakang. Usia Abdullah baru sebelas tahun, Imam melihat Abdullah sedang berlari mengikutinya. Maka Imam meminta Zainab untuk menahan Abdullah yang masih sangat belia itu.

Tetapi Abdullah menolaknya dan terus berlari sambil berkata: “Aku bersumpah tidak akan kembali hingga aku dapat menyusul paman kesayanganku.” Saat Abdullah hampir mendekati Imam, tiba-tiba pasukan musuh Harmalah Bin Kahil mengayunkan pedangnya kepada Al-Husain.

Seketika Abdullah marah dan berteriak: “Celaka engkau, wahai anak penzina! Engkau ingin membunuh pamanku.” Teriakan Abdullah membuat Harmalah marah, lalu Harmalah mengayunkan pedangnya kepada anak kecil itu, Abdullah menangkis sabetan pedang dengan tangannya. Maka tangan kecil cucu Fathimah itu terputus, darah berhamburan dari tangannya. Karena rasa sakit anak kecil itu berteriak: “Duhai pamanku..” Melihat itu Imam melompat dari kudanya dan menangis kemudian memeluk Abdullah dan berkata: “Duhai anak saudaraku, bersabarlah dengan apa yang menimpamu. Sebentar lagi engkau akan bertemu dengan ayahmu.”

Belum selesai Imam berkata-kata, tiba-tiba dengan jarak dekat hewan laknat Harmalah Bin Kahil memanah tenggorokan kecil Abdullah. Anak panah itupun menembus leher putera Al-Hasan itu sehingga darah memancar dari lehernya. Dan Abdullah pun syahid dalam pelukan paman kesayangannya Al-Husain.

Seketika anak panah kembali berterbangan, para wanita dan anak-anak berlari menuju tempat yang aman. Kemudian Al-Husain mengepalkan tangannya mencengkram pedangnya kuat-kuat dan melesat kembali kemedan pertempuran dan membunuh setiap musuh yang berada dihadapannya.

Syimir berteriak: “Engkau tidak akan meminum air hingga engkau masuk neraka!” Imam berkata: “Ya Allah, buatlah ia (Syimir) mati disebabkan dahaga.” Lalu Abu Hutuf dari belakang melesatkan anak panah dan menancap dikepala Imam. Lalu Imam mencabut anak panah itu dan menjatuhkannya seraya berkata: “Ya Allah, jangan tinggalkan apapun pada mereka diatas bumi ini, dan jangan memberi pengampunan pada mereka.”

Lalu Imam berteriak lantang: “Ini adalah perlakuan terburuk yang kalian berikan kepada keluarga Muhammad! Aku akan terbunuh oleh kalian, tetapi Allah akan memberikan pembalasan pada kalian semua!”

Imam sudah teramat lemah akibat luka parah dan racun yang menjalah dalam darahnya. Tubuh Imam sudah penuh dengan anak panah. Pada keadaan ini Saleh Bin Wahab Mazni menganggap ini sebagai kesempatan. Dengan sekuat tenaga ia hujamkan tombak kepunggung Imam. Hingga Imam terjatuh dari kudanya dan berkata: “Dengan nama Allah, dengan pertolongan Allah dan diatas agama Rasulullah.”

Kemudian Zar’ah Bin Syarik menebaskan pedangnya kepundak kiri Imam, merasa tidak puas maka ia sekali lagi menebaskan pedangnya diantara bahu dan leher Imam, sehingga Imam terjatuh kedepan. Begitu banyak musuh yang memukuli Al-Husain hingga kadang Imam tersungkur dan kadang jatuh terduduk.

Ketika Imam sedang terduduk, hewan biadab yang bernama Sinan menusukkan tombaknya kedada Imam, kemudian ia mencabut dan menusukkan kembali tombaknya kedada putera Az Zahra’. Dan terkhir ia memanah dada Imam dari jarak dekat, dan Imam tersungkur kedepan.

Imam sudah tidak berdaya, sekujur tubuhnya telah penuh dengan luka tikaman dan racun dari anak panah telah menyerang jantungnya. Imam sudah tidak mampu untuk berdiri. Lalu Umar Bin Sa’ad berkata kepada budaknya: “Habisilah dia!”

Setiap pasukan yang maju untuk membunuh Imam, seketika mundur ketakutan. Ammar Bin Hajjaj turun dari kudanya. Imam Husain menggerakkan kelopak matanya berusaha membuka kedua matanya yang telah tertutup darah. Tatkala Ammar Bin Hajjaj bertatapan dengan Imam. Ia berbalik dan menaiki kembali kudanya. Syimir bertanya mengapa ia mundur, maka Ammar menjawab: “Aku takut, karena matanya sama dengan mata kakeknya, Rasulullah.”

Lalu Syimir membentak pasukannya: “Mengapa kalian hanya melihatnya? Apa yang kalian harapkan darinya? Jika ia mampu membunuh kalian, pasti sudah ia lakukan. Cepat bunuh! Selagi ia tak berdaya!”

Imam tergeletak diatas pasir panas dan sudah tidak berdaya, Imam melihat samar kearah tentara. Mereka masih terus mengelilingi Imam dan memandanginya. Imam meminta sedikit air untuk meminumnya. Salah seorang dari mereka berkata: “Engkau tidak akan mendapatkan air, hingga engkau pergi ke neraka!”

Dengan suara lemah Imam menjawab: “Apakah aku akan keneraka bersama kakekku, dan dia adalah Rasulullah? Aku akan menceritakan kepada kakekku apa yang telah kalian lakukan kepadaku.”

Kemudian Imam mengangkat tangannya kelangit dan berkata: “Ya Allah, aku membutuhkan Engkau dan meminta pertolongan dari-Mu, dan hanya percaya kepada-Mu. Ya Allah, adililah antara kami dengan orang-orang ini. Siapa yang mengundang kami, kemudian berkhianat melawan dan membunuh kami. Ya Allah, aku tabah atas apapun yang sudah menjadi takdirku.”

Sejak Imam terjatuh dari kudanya, sang kuda tidak meninggalkan Imam. Kuda itu terus berputar didekat Imam. Kuda itu kembali mendatangi Imam lalu mengendus-endus tubuh Imam, kemundian meringkik dengan keras. Lalu kuda itu mengamuk dan menendang musuh yang berada didekatnya. Empat puluh musuh mati dengan dada remuk akibat tendangan kuda Imam.

Lalu kuda Rasul itu berlari kekemah keluarga Nabi, seakan memberi kabar tentang keadaan Imam. Setelah keluarga Nabi melihat kuda itu datang tanpa penunggangnnya. Mereka menyadari bahwa Imam tengah sekarat, seluru keluarga Nabi menangis histeris.

Seketika Sayyidah Zainab berlari sambil berteriak: “Duhai kakakku, pemimpin keluargaku. Seakan langit runtuh ke bumi dan gunung-gunung meletus dan berserakan di daratan.” Ketika Zainab melihat pasukan musuh berbaris didepan tubuh Al-Husain yang sudah terkulai tak berdaya. Ia berteriak: “Celakalah engkau, wahai Umar Bin Sa’ad! Mereka membunuh Al-Husain kakakku, sementara engkau yang menyaksikannya! Tidak adakah diantara kalian yang beragama Islam?”

Zainab berlari memeluk tubuh kakaknya yang sudh berlumuran darah, lalu Imam berbisik kepada adiknya: “Duhai adikku sayang, jagalah anak-anakku. Kembalilah kekemah, agar engkau tidak melihat ketika leher ini berada dibawah pedang.”

Syimir berteriak kepada pasukannya: “Karena kalian semua pengecut! Maka tidak ada yang lebih pantas membunuhnya kecuali aku!” Dengan bengis Syimir mendorong kepala Zainab dengan tombaknya sambil berkata: “Wahai puteri Ali, kembalilah! Engkau tidak akan melihat kakakmu lagi.”

Syimir menghampiri tubuh Imam yang sedang sekarat, kemudian Syimir menendang kaki Imam dengan keras, menginjak dan menduduki dada Imam. Itu membuat Imam merasa sesak dan tidak bisa bernafas karena dadanya tertindih. Lalu Syimir menarik janggut Imam.

Imam membuka matanya dan samar-samar melihat Syimir dengan menggunakan topeng besi penutup wajah, sedang menduduki dan menginjak dadanya.

Dengan suara lemah Imam berkata: “Siapakah engkau yang telah menginjak dada yang selalu diciumi Rasulullah?”
Syimir menjawab: “Aku adalah Syimir Dzil Jausyan!”
Imam bertanya lagi: “Apakah engkau mengenalku?”
Dan Syimir pun menjawab: “Aku mengenalmu dengan sangat baik!”
Lalu Imam Husain berkata: “Jika engkau harus membunuhku, berilah aku seteguk air terlebih dahulu.”
Syimir menjawab dengan kejam: “Tidak ! Engkau tidak akan aku berikan air hingga engkau aku bunuh.”
Kemudian Imam bertanya lagi: “Sebelum engkau membunuhku, perlihatkanlah wajahmu kepadaku.”
Syimir menjawab: “Baiklah! Permintaan yang terakhir ini akan aku penuhi.”

Setelah Syimir membuka penutup wajahnya, Imam memandangi Syimir sambil berkata: “Sungguh benar apa yang telah kakekku katakan, bahwa aku akan dibunuh oleh orang yang berwajah seperti binatang terburuk.”

Mendengar perkataan Imam, Syimir melaknat Rasulullah dan menghujani tubuh Imam dengan dua belas kali tusukan. Setiap tusukan Imam merintih kesakitan dan terus menyebut Asma Allah dan bershalawat kepada Rasulullah. Terakhir Syimir menggorok leher Imam, namun pedangnya tidak bisa memotong leher Imam. Karena leher inilah yang selalu diciumi Rasulullah dan Fathimah Az Zahra’.

Kemudian Syimir membolak-balik tubuh Imam, sambil tangannya terus menerus menggorok leher Imam, mencari bagian yang dapat ia sembelih. Lalu Syimir membalik tubuh Imam hingga wajah Imam bertemu dengan tanah. Dan mulai menggorok Imam dari belakang leher Imam.

Maka mata pedang Syimir yang tajam, perlahan mulai merobek dan menembus kulit dan urat leher Imam. Darah memancar deras dari urat leher Imam yang terputus. Dan terhenti pada tulang leher Imam, kemudian Syimir berdiri dan menebas leher Imam sekuat tenaga untuk memutuskan tulang leher Imam. Maka leher yang selalu diciumi Az Zahra’ itupun terputus. Kemudian Syimir mengambil kepala Al-Husain dan memancapkannya diujung tombaknya.

Inna Lillahi Wa Inna Ilayhi Roji’un.

Setelah itu, para tentara musuh maju untuk merampas semua barang yang melekat pada tubuh Al-Husain. Ibnu Haiwa mengambil baju Imam, Ibnu Martsad mengambil sorban Imam, Ibnu Khalid mengambil sepatu Imam dan Ibnu Khal mengambil pedang Imam, Qais mengambil beludru Qathifah Imam, Ja’wunah mengambil baju besi Imam, dan Rahil mengambil busur Imam.

Dan bajad ingin mengambil cincin Imam, namun ia tidak dapat melepaskan cincin itu dari jari Imam, maka Bajad memotong jari Imam hanya untuk mendapatkan cincin itu. Kemudian mereka meninggalkan tubuh yang tanpa kepala itu ditengah gurun tandus Karbala.

YA RABB....YA RASUL...YA ZAHRA'......
YA SYAHID.. YA MADZLUM.. YA IMAM.. YA HUSEIN..

La'natullah ala Muawyiah ibn Abu Sufyan, wa la'natullah ala Yazid ibn Muawiyah, wa ala Ibn Ziyad, wa ala Umar ibn Sa'ad, wa ala Syimr, wa la'natullah ala kullun Nashibi ila yaumil qiyamah !!!!

SEMUA YANG TERLIBAT PEMBUNUHAN IMAM HUSAIN S.A TERTIMPA AZAB DI DUNIA.



Ibnu Syihab al-Zuhri menuturkan bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Husein mendapat siksa di dunia. Ada yang dibunuh, buta, wajahnya menghitam, atau kehilangan kekuasaan dalam waktu singkat. Di antara yang mengalaminya adalah Abdullah bin Khashin. Ketika pihak Yazid bin Muawiyah dan Husein berperang dan mereka men
ghalangi Husein untuk mendapatkan air, Abdullah memanggil Husein lalu berkata, “Hai Husein! Tidakkah kamu lihat air itu seolah-olah berada di tengah-tengah langit. Demi Allah, kamu tidak akan merasakan setetes air pun, sampai kamu mati kehausan.” Kemudian Husein berdoa, “Ya Allah, semoga dia mati kehausan.” Lalu Abdullah meminum air itu tanpa henti tetapi dahaganya tidak hilang juga, sampai ia mati kehausan. (Dikemukakan oleh Imam al-Syali Ba’lawi dalam kitab Al Masyru’ al-Marwi )

Dalam kisah lain diceritakan bahwa Husein berdoa ketika hendak meminum air yang dibawanya, tiba-tiba seorang laki-laki yang dikenal sebagai seorang penakut memanah Husein. Anak panah itu mengenai langit-langit rnulut Husein schingga ia tidak bisa minum. Lalu Husein r.a. berdoa, “Ya Allah, berikan rasa haus kepadanya.” Maka orang yang keji itu berteriak-teriak karena perutnya kepanasan dan punggungnya kedinginan. Kemudian di depannya diletakkan es dan kipas, scmentara di belakangnya diletakkan tungku perapian, dia berteriak, “Beri aku minum!” Lalu ia diberi satu wadah besar berisi arak, air, dan susu, yang cukup untuk lima orang. Ia meminumnya, tetapi ia tetap berteriak kehausan. Ia diberi minum lagi dengan ukuran semula, lalu meminumnya sampai perutnya kembung seperti perut unta. (Dituturkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabAl-Shawa’iq)

Diceritakan pula bahwa ada seorang tua renta yang terlibat dalam pembunuhan Husein mendengar berita bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan itu tidak akan mati kecuali telah mendapat siksa di dunia. Orang tua itu berkata, “Aku ikut menyaksikan pembunuhan itu, tetapi belum pernah ditimpa kejadian tidak mengenakkan.” Kemudian ia berdiri di dekat lampu untuk memperbaikinya, tiba-tiba api berkobar menyambarnya, sehingga ia berteriak-teriak, “Api! Api!” Sampai akhirnya dia tewas terbakar. (Diceritakan oleh Al-Syali)

Al-Syali juga menceritakan bahwa ada seseorang yang hanya menghadiri pembunuhan Husein, lalu ia menjadi buta. Ketika ditanya tentang sebab kebutaannya, ia menceritakan bahwa ia melihat Nabi Saw memegang pedang, dan di depan beliau terhampar tikar dari kulit. Ia juga melihat 10 orang pembunuh Husein disembelih di hadapan Nabi. Nabi mencela dan mencemoohnya karena telah ikut mendukung para pembunuh itu. Kemudian Nabi menempelkan celak dari darah Husein ke matanya, lalu ia menjadi buta.

Dalam kisah lain, Asy-Syali menceritakan bahwa ada seseorang yang menggantung kepala Husein dengan tali pelana kudanya. Beberapa hari kemudian, wajahnya tampak lebih hitam daripada aspal. Ada seseorang yang berkata kepadanya, “Anda adalah orang Arab yang paling hitam wajahnya.” Dia menjawab, “Pada malam ketika aku memegang kepala Husein itu, lewatlah dua orang yang mencengkeram lenganku. Mereka menggiringku ke arah api yang menyala-nyala dan mendorongku masuk ke dalamnya. Aku hanya bisa menunduk lemah, api itu menghanguskan kulitku sehingga hitam legam seperti yang kau lihat.” Akhirnya ia tewas dalam kondisi mengenaskan.

Husein mati syahid pada hari Jumat, bulan Asyura (Muharram), 61 H.

Turbah Imam Husain as yg terdapat di Muzium Imam Husain di Karbala telah mengeluarkan DARAH

Berubahnya Tanah Karbala Menjadi Darah di Hari Asyura

Irak:
Berubahnya Tanah Karbala Menjadi Darah di Hari Asyura
Photo: Irak:
Berubahnya Tanah Karbala Menjadi Darah di Hari Asyura



Menurut Kantor Berita ABNA, setelah kurang lebih 1400 tahun peristiwa Asyura telah berlalu, namun bagi pecinta Ahlul Bait, serasa baru kemarin sore kejadiannya. Kebangkitan al Husain selalu abadi dalam jiwa-jiwa pecintanya, kesedihan atas kesyahidan Imam Husain masih terus terasa. Di hari-hari bulan Muharram para pecinta al Husain di seluruh dunia menangisi kematian beliau yang teramat tragis, tidak sekedar dibunuh namun kepalanya dipisahkan dari tubuhnya dan diarak untuk dipermalukan.

Ahad (25/11) bertepatan dengan tanggal 10 Muharram 1434 H hari peristiwa terbantainya Imam Husain as segenggam tanah yang diambil dari makam Imam Husain yang diletakkan dalam museum di Karbala tiba-tiba berubah menjadi gumpalan darah.

Peristiwa berubahnya tanah tersebut menjadi darah disaksikan langsung dengan mata kepala sendiri oleh ratusan orang yang kemudian disampaikan secara resmi oleh pengurus Haram al Husain di Karbala dan dimuat dalam situs resmi mereka.

Kejadian berubahnya tanah Karbala menjadi darah bukanlah sesuatu yang baru, kejadian tersebut juga pernah terjadi di masa Rasululllah yang periwayatan kisahnya terdapat dalam kitab mu'tabar Sunni dan Syiah. Suatu ketika malaikat Jibril as mendatangi Rasululllah saw dan memberikan segenggam tanah karbala sembari mengabarkan akan terbantainya Imam Husain cucunya kelak di padang Karbala. Nabi kemudian menangis mendengarkan kabar dari malaikat Jibril as tersebut. Ketika ditanya oleh istrinya, Ummu Salamah ra, Nabi kemudian memberikan tanah Karbala tersebut dan menyatakan, "Simpanlah tanah ini, dan ketika kamu melihat tanah ini berubah menjadi darah, maka ketahuilah cucu saya Husain telah terbunuh di tanah yang bernama Karbala." Kisah ini diriwayatkan diantaranya dalam kitab mustadrak al Hakim dan kitab Tahdzib at Tahdzib karya Ibnu Hajar 'Asqalani.


Menurut Kantor Berita ABNA, setelah kurang lebih 1400 tahun peristiwa Asyura telah berlalu, namun bagi pecinta Ahlul Bait, serasa baru kemarin sore kejadiannya. Kebangkitan al H
usain selalu abadi dalam jiwa-jiwa pecintanya, kesedihan atas kesyahidan Imam Husain masih terus terasa. Di hari-hari bulan Muharram para pecinta al Husain di seluruh dunia menangisi kematian beliau yang teramat tragis, tidak sekedar dibunuh namun kepalanya dipisahkan dari tubuhnya dan diarak untuk dipermalukan.

Ahad (25/11) bertepatan dengan tanggal 10 Muharram 1434 H hari peristiwa terbantainya Imam Husain as segenggam tanah yang diambil dari makam Imam Husain yang diletakkan dalam museum di Karbala tiba-tiba berubah menjadi gumpalan darah.

Peristiwa berubahnya tanah tersebut menjadi darah disaksikan langsung dengan mata kepala sendiri oleh ratusan orang yang kemudian disampaikan secara resmi oleh pengurus Haram al Husain di Karbala dan dimuat dalam situs resmi mereka.

Kejadian berubahnya tanah Karbala menjadi darah bukanlah sesuatu yang baru, kejadian tersebut juga pernah terjadi di masa Rasululllah yang periwayatan kisahnya terdapat dalam kitab mu'tabar Sunni dan Syiah. Suatu ketika malaikat Jibril as mendatangi Rasululllah saw dan memberikan segenggam tanah karbala sembari mengabarkan akan terbantainya Imam Husain cucunya kelak di padang Karbala. Nabi kemudian menangis mendengarkan kabar dari malaikat Jibril as tersebut. Ketika ditanya oleh istrinya, Ummu Salamah ra, Nabi kemudian memberikan tanah Karbala tersebut dan menyatakan, "Simpanlah tanah ini, dan ketika kamu melihat tanah ini berubah menjadi darah, maka ketahuilah cucu saya Husain telah terbunuh di tanah yang bernama Karbala." Kisah ini diriwayatkan diantaranya dalam kitab mustadrak al Hakim dan kitab Tahdzib at Tahdzib karya Ibnu Hajar 'Asqalani.

HARI BAIK DAN NAHAS MENURUT IMAM JA’FAR ASH-SHADIQ A.S



Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan juga untuk memperoleh kebaikan dan keberkahan, maka sebaiknya kita memilih hari yang baik dan tepat untuk melakukan aktivitas. Misalnya akad pernikahan, memulai usaha, memulai membangun rumah, melakukan kontrak kerja, pindah rumah, bepergian dan lainnya. Karena hari-hari itu tidak sama nila
inya, ada yang baik untuk aktivitas tertentu dan tidak baik untuk aktivitas yang lain, dan ada juga hari yang nahas (sial) sepanjang hari.

Allah swt berfirman: “Kami menghembuskan badai dalam beberapa hari yang nahas, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan di akhirat lebih menghinakan sedangkan mereka tidak diberi pertolongan.” (Fushshilat/41: 16)

“Sesungguhnya Kami menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus.” (Al-Qamar/54: 19).

Tentang hari-hari pilihan, Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Hindarilah melakukan safar (bepergian) pada hari ketiga, keempat, ke 21 dan ke 25 setiap bulan, karena hari-hari itu adalah hari nahas.” (Makarimul Akhlaq: 424)

Beliau juga mengatakan:

Tanggal 1 : Baik untuk menjumpai penguasa, mencapai hajat, jual-beli, bercocok tanam, dan bepergian.

Tanggal 2 : Baik untuk bepergian, dan mencapai hajat.

Tanggal 3 : Buruk dan tidak baik untuk seluruh kegiatan

Tanggal 4 : Baik untuk perkawinan, dan tidak disukai untuk bepergian.

Tanggal 5 : Buruk dan na’as.

Tanggal 6 : Diberkati, baik untuk perkawinan, dan mencapai hajat.

Tanggal 7 : Diberkahi, terpilih dan baik untuk segala yang diinginkan dan

rencana usaha.

Tanggal 8 : Baik untuk semua hajat kecuali bepergian.

Tanggal 9 : Diberkahi, baik untuk semua yang diinginkan manusia, dan siapa yang bepergian pada hari ini ia akan dianugerahi harta dan akan melihat setiap kebaikan dalam bepergiannya.

Tanggal 10 : Baik untuk semua hajat kecuali mendatangi penguasa; orang yang lari dari penguasa pada hari ini ia akan tertangkap; orang yang kehilangan sesuatu akan didapatkan; hari ini sangat baik untuk jual-beli.

Tanggal 11 : Baik untuk jual-beli, dan mencapai semua hajat kecuali mendatangi penguasa; dan baik untuk melakukan persembunyian.

Tanggal 12 : Hari ini baik dan penuh berkah; capailah hajat anda dan berusahalah insya Allah tercapai.

Tanggal 13 : Sepanjang hari ini na’as, maka waspadalah dalam seluruh urusan.

Tanggal 14 : Sangat baik untuk mencapai seluruh hajat dan usaha.

Tanggal 15 : Baik untuk semua hajat yang diinginkan, maka capailah hajat Anda, insya Allah tercapai.

Tanggal 16 : Buruk dan tercela untuk segala sesuatu.

Tanggal 17 : Baik dan terpilih untuk mencapai keinginan, perkawinan, jual-beli, bercocok tanam, mendirikan bangunan, mendatangi penguasa untuk suatu hajat, insya Allah tercapai.

Tanggal 18 : Terpilih dan baik untuk bepergian, dan mencapai hajat; orang yang melakukan perlawanan terhadap musuhnya ia akan memperoleh kemenangan dengan kekuasaan Allah swt.

Tanggal 19 : Terpilih dan baik untuk seluruh amal perbuatan; anak yang dilahirkan pada hari ini ia akan diberkahi.

Tanggal 20 : Sangat baik dan terpilih untuk mencapai hajat, bepergian, mendirikan bangunan, bercocok tanam, melangsungkan resepsi perkawinan, dan mendatangi penguasa; hari ini penuh berkah dengan kehendak Allah swt.

Tanggal 21 : Hari na’as sepanjang hari.

Tanggal 22 :Terpilih dan baik untuk jual-beli, mendatangi penguasa, bepergian, dan bersedekah.

Tanggal 23 :Terpilih dan sangat baik khusus untuk perkawinan, perdagangan, dan mendatangi penguasa.

Tanggal 24 : Hari na’as dan tercela.

Tanggal 25 : Buruk dan tercela, waspadalah melakukan sesuatu.

Tanggal 26 : Baik untuk mencapai seluruh hajat kecuali perkawinan dan bepergian; hendaknya bersedekah Anda akan merasakan manfaatnya.

Tanggal 27 : Sangat baik dan terpilih untuk mencapai semua hajat dan apa yang diinginkan, dan mendatangi penguasa.

Tanggal 28 : Berimbang antara baik dan buruk.

Tanggal 29 : Terpilih dan sangat baik untuk semua hajat orang yang sakit pada hari ini akan cepat sembuh; orang yang bepergian pada hari ini hartanya akan terkena musibah,dan orang yang lari akan kembali.

Tanggal 30 : Terpilih dan sangat baik untuk semua hajat, jual-beli, perkawinan, dan bercocok tanam; orang yang sakit pada hari akan cepat sembuh; anak yang lahir pada hari ini ia memiliki sifat tabah dan diberkahi, dimuliakan urusannya, jujur lisannya, dan setia terhadap janji.

Perhitungan Hari-Hari ini dan perubahan hari atau tanggal hendaknya didasarkan pada Kalender Hijriyah dengan perhitungan (hisab) yang benar.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Jika terpaksa melakukan aktivitas pada hari nahas atau hari yang tidak baik, maka hendaknya bersedekah sebelum melakukan aktivitas dan membaca doa penolak bala’